Menu

Mode Gelap
Balikpapan Siap Sambut 5.000 Peserta Porpamnas IX 2026, Dongkrak Ekonomi dan Promosikan Gerbang IKN HUT RI ke-81 di Balikpapan Tetap Digelar di BSCC Dome, Pemkot Sesuaikan Jumlah Undangan Disambut Haru Warga, Rita Widyasari Pilih Istirahat dan Berkumpul Bersama Keluarga OIKN Perkuat Upaya Cegah Stunting, Siapkan Generasi Sehat untuk Masa Depan Nusantara OIKN Hadir di IEES 2026 Balikpapan, Perkenalkan Progres Pembangunan Nusantara dan Peluang Investasi

NASIONAL · 25 Jul 2025 13:15 WITA ·

CTRL+J APAC 2025: Media Asia-Pasifik Sepakati Kolaborasi Hadapi Tantangan Jurnalisme Era AI


 CTRL+J APAC 2025: Media Asia-Pasifik Sepakati Kolaborasi Hadapi Tantangan Jurnalisme Era AI Perbesar

KUMALANEWS.ID, JAKARTA – Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan International Fund for Public Interest Media (IFPIM) tengah menggelar konferensi regional CTRL+J APAC 2025. Seminar tiga hari ini bertujuan memperkuat kerja sama lintas negara di Asia–Pasifik untuk merumuskan standar jurnalisme yang berkualitas di era Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI). Kegiatan yang diselenggarakan pada 22–24 Juli 2025 di Hotel Le Meridien, Jakarta ini mengumpulkan para jurnalis, penggiat media, akademisi, dan pelaku teknologi digital.

Pada hari kedua konferensi ini, panel diskusi “Preparing the Future: The State of Play in APAC” menghadirkan tiga pembicara, salah satunya Jacque Manabat, jurnalis multimedia asal Filipina yang membagikan pengalamannya dalam kerja jurnalistik. Di era AI, Jacque  menggunakan platform media sosial seperti TikTok untuk memproduksi konten berita terkini. Sebagai newsfluencer atau influencer yang menyampaikan berita, Jacque tetap menggunakan metode jurnalistik dalam bekerja; melakukan pengecekan fakta dan disiplin verifikasi, serta mematuhi Kode Etik Jurnalistik.

“Kami masih melakukan pekerjaan dengan metode jurnalistik, hanya saja dengan bentuk penceritaan yang berbeda,” kata Jacque. Sedangkan peneliti dari Kyoto University, Jepang, Irendra Radjawali menegaskan, “Data yang dimasukkan ke dalam AI sangat bias karena sebagian besar dibuat oleh programmer kulit putih dan Barat, jadi sebenarnya tidak lengkap dan serba tahu seperti yang kita asumsikan,” ungkap Irendra.

Pada diskusi panel “Preparing the Future: Compensation Strategies” menghadirkan empat pembicara.  Wakil Ketua Public Interest Publishers Alliance Australia (PIPA), Nelson Yap, memaparkan kondisi media di negaranya. “Jurnalisme adalah infrastruktur publik yang sangat penting dan pemerintah Australia mengakui hal ini. Pada 2025, pemerintah Australia mendistribusikan dana hibah sebesar $99 juta untuk organisasi berita selama tiga tahun,” ungkap Nelson.

Pemerintah Australia juga berinisiatif meluncurkan  program tawar menawar berita (news bargaining code) untuk mewajibkan perusahaan raksasa teknologi digital seperti Google dan Metta. Nelson mencontohkan apa yang terjadi di Kanada, dimana perusahaan-perusahaan teknologi digital  memblokir konten berita di platform mereka. “News Bargaining Initiatives mendorong platform digital untuk masuk atau memperbarui kesepakatan dengan penerbit berita. Pada saat yang sama, Amerika mengancam akan memperlakukan tarif tambahan atau tarif yang lebih tinggi di Australia karena kami mengatur teknologi, sementara perusahaan-perusahaan teknologi menjarah organisasi-organisasi berita di Australia,” imbuhnya.

Pada diskusi panel “Preparing the Future: Amplifying Diverse Voice and Addressing the Language Barrier in AI”  menghadirkan empat pembicara. Salah satunya Program Director for Training and Network Meedan, Shalini Joshi menerangkan bahwa AI sebagai pemeriksa fakta saat ini tersedia dalam 31 bahasa di Asia yang bertujuan membantu media dan organisasi masyarakat sipil dalam memperluas artikel. Sedangkan Senior Director of AI Product dari AI IG, Dr. Leslie Teo mempresentasikan LLM SEA-Lion yang fokus pada bahasa-bahasa di Asia Tenggara, terutama bahasa-bahasa lokal seperti Jawa, Ambon dan lainnya. Pembicara lain, peneliti AI Center ITB, Ayu Purwarianti menjelaskan  proyek Nusa Dialogue yang digagas oleh ITB untuk mendokumentasikan bahasa-bahasa daerah di Indonesia, dengan sumber data yang berasal dari para penutur asli bahasa dan dialek daerah.

Sedangkan dua pembicara yang hadir dalam diskusi panel “Preparing for the Future: Publisher’ Preparedness and Engagement Strategy in the Era of AI”, adalah Executive Director of Nucleo Journalismo asal Brasil Sergio Spagnuolo yang memaparkan berdasarkan riset, Indonesia dan Brasil memiliki kebijakan AI yang sangat permisif, hanya 5-6 persen situs web media yang memblokir setidaknya satu agen AI dalam file robot.txt mereka. “Sementara itu, proporsinya 35 persen di Amerika Serikat. Kami akan segera merilis sebuah alat untuk penerbit menghasilkan file robot.txt anda sendiri, untuk membantu Anda memblokir bot apapun yang ingin anda blokir,” katanya.

Sementara itu, President of RadicalxChange Foundation, Matt Prewitt menegaskan, jurnalis harus memastikan bahwa semua konten dan materi yang mereka produksi terlindungi. Mereka juga harus menyiapkan perizinan, tergantung pada kedalaman data yang digunakan. “Mereka harus mengumpulkan kekuatan untuk bernegosiasi dengan perusahaan teknologi dalam hal akses AI dan bagaimana informasi dapat dibagikan.  Tidak mengontrol akses terhadap konten Anda akan mengakibatkan penurunan dukungan pasar lebih lanjut untuk organisasi media,” ungkapnya.

Ini merupakan rilis pers hari kedua. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, dapat menghubungi narahubung Sarah Ervina 0821-2540-3518. (*)

 

Artikel ini telah dibaca 60 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

AMSI Kecam Dugaan Teror terhadap Floresa.co, Desak Aparat Usut Tuntas dan Lindungi Kebebasan Pers

12 Juni 2026 - 12:00 WITA

amsi99

Dewan Pers Matangkan Usulan RUU Hak Cipta, Perkuat Perlindungan dan Nilai Ekonomi Karya Jurnalistik

12 Juni 2026 - 11:00 WITA

pers99

Rita Widyasari Minta Pengembangan Perkara Dinilai Berdasarkan Fakta dan Asal-usul Aset

6 Juni 2026 - 15:30 WITA

bunda05

Rita Widyasari: Bantuan Sosial kepada Masyarakat Berasal dari Usaha yang Dimiliki Sebelum Menjabat

6 Juni 2026 - 15:00 WITA

bunda03

Rita Widyasari Minta Proses Hukum Lihat Sejarah Kepemilikan Perusahaan Secara Utuh

6 Juni 2026 - 14:30 WITA

bunda01

IKN Youth Forum Dorong Generasi Muda Lawan Hoaks dan Kawal Masa Depan Nusantara

1 Mei 2026 - 15:00 WITA

ikn1232123123
Trending di IKN NUSANTARA