KUMALANEWS.ID, SAMARINDA — Suasana Minggu sore di Busam Area, Jalan Letjen Suprapto, terasa berbeda. Ruang pertemuan yang biasanya menjadi tongkrongan anak muda dan tamu kafe itu berubah menjadi tempat berkumpulnya para ketua RT dan tokoh masyarakat dari delapan kelurahan di Kecamatan Samarinda Ulu. Mereka datang bukan sekadar menghadiri agenda formal, tetapi membawa harapan yang ingin disampaikan langsung kepada wakil mereka di DPRD Kota Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie.
Reses Masa Persidangan III Tahun 2025 ini sengaja dipusatkan di satu lokasi. Bukan tanpa alasan, namun sebagai bentuk kehati-hatian agar tidak ada satu pun kelurahan merasa terabaikan.
“Saya ingin semua punya kesempatan yang sama. Ketika kita kumpul di satu tempat, tidak ada kecemburuan, dan suara dari tiap kelurahan bisa tersampaikan secara merata,” ujar Novan, yang juga Ketua Komisi IV DPRD Samarinda.
Pro-Bebaya, Program yang Dekat dengan Warga
Di tengah dialog hangat itu, Novan kembali mengangkat satu program yang belakangan menjadi perbincangan banyak RT: Pro-Bebaya. Baginya, program berbasis RT ini merupakan kanal yang paling memungkinkan untuk menyelesaikan persoalan harian warga—dari perbaikan fasilitas lingkungan hingga kebutuhan sosial yang mendesak.
“Mungkin anggarannya tidak besar, tapi manfaatnya terasa langsung. Kalau 1.996 RT mendapatkan sampai Rp100 juta, itu hampir Rp200 miliar yang langsung menyentuh masyarakat. Ini program yang paling dekat dengan kebutuhan nyata,” tuturnya.
Masalah Drainase Masih Mendominasi
Seperti halnya wilayah padat penduduk lain di Samarinda, Samarinda Ulu masih berkutat dengan isu klasik: drainase tersumbat dan gorong-gorong lama yang nyaris tak berfungsi. Hampir setiap ketua RT menyampaikan keluhan serupa. Normalisasi saluran air menjadi aspirasi yang paling mendesak.
Selain itu, perbaikan fasilitas masjid dan langgar menjadi perhatian lain yang disampaikan warga. Beberapa tokoh juga menekankan perlunya pelatihan penanganan kebakaran serta pengadaan damkar lingkungan, mengingat permukiman padat di wilayah ini rentan terhadap kebakaran.
Semua usulan itu akan diformalkan dalam proposal yang diunggah melalui SIPD, mengikuti alur perencanaan yang sudah menjadi standar.
Tantangan Anggaran dan Harapan di Tahun 2027
Dalam pertemuan itu, Novan tidak menutup mata terhadap situasi fiskal daerah. Ia menyampaikan bahwa Kota Samarinda berpotensi menghadapi penurunan dana transfer pusat hingga Rp1,2 triliun. Kondisi ini membuat pemerintah harus lebih selektif menentukan arah pembangunan.
Karena itu, usulan reses kali ini difokuskan untuk arah pembiayaan tahun 2027. “Yang penting aspirasi masuk dulu. Insyaallah, semuanya kami kawal sesuai mekanisme,” ucapnya.
Ketua RT sebagai Garda Terdepan Pelayanan Publik
Di luar forum, ditemui awak media Novan menekankan bahwa para ketua RT dan tokoh masyarakat memegang peran penting sebagai penghubung antara warga dan pemerintah. Melalui mereka, dinamika lingkungan dapat terbaca dengan jelas.
“Kita bicara pelayanan publik yang baik, itu selalu bermula dari pemahaman kebutuhan di tingkat RT,” katanya.
Ia juga mengungkapkan adanya aduan mengenai bangunan yang tidak sesuai tata ruang, sebuah persoalan laten yang perlu penanganan jangka panjang.
Menariknya, beberapa RT yang tidak bisa hadir tetap menitipkan aspirasi melalui tokoh masyarakat masing-masing. “Yang penting suara itu tetap sampai,” tambahnya.

Foto bersama usai acara Reses Masa Persidangan III Tahun 2025 yang digelar Mohammad Novan Syahronny Pasie, diikuti para ketua RT, tokoh masyarakat, dan warga dari Kecamatan Samarinda Ulu. Suasana kekeluargaan mewarnai penutup kegiatan yang berlangsung di Busam Area.
Pro-Bebaya Tak Bisa Menjawab Semua
Meski Pro-Bebaya menjadi program favorit warga, Novan mengingatkan bahwa program ini tidak dapat mengakomodasi semua jenis pekerjaan. Beberapa kebutuhan berskala besar, seperti pengerjaan drainase utama atau perbaikan infrastruktur berat, harus ditangani melalui anggaran program pemerintah daerah yang lain.
“Kalau Pro-Bebaya dipaksakan untuk pekerjaan besar, hasilnya tidak maksimal. Kita harus bijak melihat porsi anggaran,” tegasnya.
Reses sore itu akhirnya menjadi ruang pertemuan yang bukan hanya soal teknis pembangunan, tetapi juga tentang bagaimana warga dan legislator saling memahami kebutuhan satu sama lain. Dalam kehangatan dialog dan rangkaian aspirasi yang mengalir, tersimpan harapan besar agar pembangunan Samarinda Ulu berjalan lebih tertib, merata, dan manusiawi.
Pewarta : Yana Editor : Awang @2025

















