KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Tradisi musik tingkilan khas Kutai mulai menghadapi tantangan baru yakni berkurangnya jumlah pelaku seni yang mampu memainkan instrumen tradisional tersebut. Pamong Budaya Ahli Muda Bidang Cagar Budaya Disdikbud Kukar, M. Saidar, menyampaikan bahwa regenerasi pemain menjadi perhatian serius agar kesenian ini tidak kehilangan penerus.
Menurut Saidar, sebagian besar pemain tingkilan saat ini adalah seniman senior yang telah lama berkecimpung di dunia seni tradisional. Sementara minat generasi muda terhadap alat musik tradisional dinilai masih rendah, karena lebih banyak tertarik pada musik modern.
“Memang pelaku tingkilan yang aktif sekarang banyak yang sudah sepuh. Regenerasi ini penting supaya tradisi tidak putus,” ujar Saidar pada Rabu (19/11/2025).
Ia menjelaskan bahwa mengenalkan tingkilan kepada anak muda tidak cukup hanya melalui pertunjukan, tetapi juga harus melalui pelatihan dan kelas khusus. Karena itu, Disdikbud Kukar tengah menyiapkan agenda pembinaan berbasis komunitas untuk menarik minat generasi muda.
“Kalau tidak dikenalkan sejak dini, anak-anak tidak tahu cara memainkannya. Ada teknik-teknik khusus yang harus diajarkan, terutama untuk alat seperti gambus dan gawai dari kayu nangka,” jelasnya.
Saidar menilai bahwa tingkilan bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat Kukar yang mengandung nilai sejarah dan filosofi. Jika tidak ada upaya khusus dalam membina pemain baru, khazanah budaya ini terancam ditinggalkan generasi berikutnya.
“Ini bukan hanya musik, tapi identitas. Kalau tidak diwariskan, lama-lama hilang,” tegasnya.
Sebagai langkah awal, Disdikbud Kukar sedang mengkaji program pelatihan rutin yang dapat digelar di sanggar budaya, sekolah, hingga ruang publik. Kegiatan ekspresi budaya yang selama ini berlangsung setiap malam Minggu turut diarahkan untuk melibatkan lebih banyak kelompok muda.
“Kami ingin anak-anak ikut menonton, bahkan ikut mencoba. Dari situ bisa tumbuh minat,” katanya.
Selain itu, pihaknya juga membuka peluang kerja sama dengan sekolah-sekolah untuk menjadikan tingkilan sebagai bagian dari kegiatan seni siswa. Koordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi juga tengah direncanakan sebagai bagian dari penguatan kurikulum muatan lokal berbasis budaya daerah.
“Kalau masuk sekolah, peluang regenerasinya jauh lebih besar. Anak-anak bisa belajar langsung,” tambah Saidar.
Ia berharap berbagai langkah pembinaan ini mampu menumbuhkan kembali minat anak muda terhadap instrumen tradisional. Dengan dukungan masyarakat dan lembaga pendidikan, Saidar optimistis tingkilan dapat terus hidup sebagai warisan budaya Kutai.
“Yang penting ada penerus. Tingkilan harus tetap berbunyi untuk generasi yang akan datang,” tutupnya.
ADV Disdikbud Kukar Pewarta : Indirwan Editor : Fairuzzabady @2025

















