Menu

Mode Gelap
Hasil Uji Debu di Kilang Pertamina Dinyatakan Aman, Pemkot Minta Sop Dievaluasi Dovy Sosialisasikan Raperda Pasar Rakyat, Siap Perjuangkan Aspirasi Warga Meski Beda Dapil Hari Ketiga Pencarian Nelayan Hilang di Muara Berau Belum Membuahkan Hasil Sosialisasikan Raperda Pasar Rakyat, Rusdi Doviyanto Ajak Warga Ikut Beri Masukan DPRD Samarinda Godok Raperda Pasar Rakyat, Dovy Serap Aspirasi Warga Sambutan

BERITA DAERAH · 17 Jan 2026 11:00 WITA ·

Danau Saguntur, Ruang Hidup di Tengah Banjir: Harmoni Alam dan Kearifan Warga Sangkuliman


 Potret Desa Sangkuliman, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), yang menyuguhkan pesona alam nan asri di sepanjang bantaran anak Sungai Mahakam. Kawasan ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat setempat yang bergantung pada sumber daya perairan serta menjaga kearifan lokal dalam harmoni dengan alam. Foto: Rojali. Perbesar

Potret Desa Sangkuliman, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), yang menyuguhkan pesona alam nan asri di sepanjang bantaran anak Sungai Mahakam. Kawasan ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat setempat yang bergantung pada sumber daya perairan serta menjaga kearifan lokal dalam harmoni dengan alam. Foto: Rojali.

KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA — Di Desa Sangkuliman, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), air bukan sekadar bentang alam, melainkan denyut kehidupan. Danau Saguntur yang menyatu dengan Danau Semayang membentang luas, terhubung dengan Sungai Mahakam melalui Sungai Mahalam dan sejumlah anak sungainya. Jaringan perairan ini membentuk lanskap unik yang diperkaya oleh luah dan tanjung seperti Luah Palla, Luah Caki, Luah Kijang, Luah Ulaman, Kayu Pagat, Tanjung Hallat, Tanjung Palla, dan Tanjung Rappeh, semuanya berada dalam wilayah administratif Desa Sangkuliman.

Di tengah hamparan air danau, sebuah pulau kecil berdiri sebagai ruang penyangga kehidupan. Saat musim banjir datang dan permukaan air meninggi, pulau ini berubah fungsi menjadi tempat aman bagi warga untuk menambatkan keramba ikan dan rakit apung, bahkan menjadi hunian sementara. Di sanalah, masyarakat menjaga denyut ekonomi dan keselamatan keluarga di tengah tantangan alam.

Rojali, penggiat pariwisata Desa Sangkuliman, bercerita bahwa Desa Wisata Sangkuliman dan Desa Wisata Pela berada pada satu aliran anak Sungai Mahakam. Jalur air ini kerap dilalui gulma air jenis kumpai yang ukurannya bisa sangat besar. Ketika hanyut tanpa kendali, kumpai dapat menutup alur sungai dan menghantam keramba ikan, menimbulkan kerugian bagi para pembudidaya.

Namun, warga Sangkuliman tidak tinggal diam. Dengan kearifan lokal yang terjaga turun-temurun, mereka melakukan langkah-langkah mitigasi. Gulma dipecah di Danau Semayang sebelum memasuki alur sungai menuju Mahakam. Jika ukurannya terlalu besar dan sulit diurai, kumpai didorong ke tepi danau dan diarahkan ke Danau Saguntur wilayah perairan yang tidak memiliki permukiman warga.

“Warga yang memiliki keramba ikan dan rakit apung akan menariknya ke luah atau area danau yang masih banyak ditumbuhi pepohonan. Pohon-pohon itu menjadi penahan gulma sekaligus pemecah gelombang,” ujar Rojali, Sabtu (17/1/2026).

Neutral Tones Fashion Photo Collage 19

Danau Saguntur di Desa Sangkuliman kerap menjadi lokasi Pesut Mahakam mencari makan, khususnya saat air pasang besar. Suasana danau yang tenang dan asri menjadikannya habitat alami serta kawasan penting bagi perkembangbiakan biota air tawar. Foto: Rojali.

Saat ini, Desa Sangkuliman tengah menghadapi musim banjir besar. Gulma-gulma hanyut mengapung di Danau Semayang, sebagian diarahkan ke Teluk Mantaba di tepi Tanjung Rappeh. Sementara itu, kayu-kayu bekas patahan pohon dibiarkan mengalir menuju Danau Saguntur. Luah-luah kecil pun dimanfaatkan warga sebagai lokasi aman untuk keramba ikan dan rakit apung, menjaga mata pencaharian tetap bertahan.

Pemerintah Desa Sangkuliman bersama masyarakat setempat terus meningkatkan kewaspadaan. Siang dan malam, warga berjaga untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk yang dapat mengancam keselamatan serta sumber penghidupan mereka.

Menariknya, gulma yang diarahkan ke Teluk Mantaba tidak semata menjadi “masalah”. Menurut Rojali, kumpai justru berperan penting secara ekologis. Gulma menjadi habitat biota air, tempat ikan bertelur, sekaligus pelindung alami dari arus kuat. Keberadaannya diharapkan membawa manfaat bagi nelayan dan satwa air, termasuk Pesut Mahakam mamalia air endemik yang menjadi ikon Sungai Mahakam.

Danau Saguntur sendiri kerap menjadi lokasi Pesut Mahakam mencari makan, terutama saat air pasang besar. Selain itu, kawasan ini juga menjadi jalur transportasi air warga, dilalui perahu ces dan long boat yang menghubungkan aktivitas sosial dan ekonomi antarwilayah.

Di akhir perbincangan, Rojali mengajak semua pihak untuk menjaga kelestarian kawasan hutan di Tanjung Hallat, Tanjung Rappeh, Tanjung Palla, serta Gunung Tallo. Baginya, alam Sangkuliman bukan hanya warisan, tetapi juga penopang masa depan. Harmoni antara air, hutan, dan manusia adalah kunci agar kehidupan di tepian danau ini tetap berkelanjutan.

 

Pewarta & Editor: Fairuzzabady
@2026
Artikel ini telah dibaca 149 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Hasil Uji Debu di Kilang Pertamina Dinyatakan Aman, Pemkot Minta Sop Dievaluasi

20 Juli 2026 - 11:00 WITA

C5

Dovy Sosialisasikan Raperda Pasar Rakyat, Siap Perjuangkan Aspirasi Warga Meski Beda Dapil

19 Juli 2026 - 21:00 WITA

C4

Hari Ketiga Pencarian Nelayan Hilang di Muara Berau Belum Membuahkan Hasil

19 Juli 2026 - 18:30 WITA

C2

Sosialisasikan Raperda Pasar Rakyat, Rusdi Doviyanto Ajak Warga Ikut Beri Masukan

19 Juli 2026 - 17:00 WITA

C1

DPRD Samarinda Godok Raperda Pasar Rakyat, Dovy Serap Aspirasi Warga Sambutan

18 Juli 2026 - 21:00 WITA

ab46

KONI Samarinda Matangkan Kontingen Porprov, 1.700 Atlet Masuk Tahap Seleksi Akhir

18 Juli 2026 - 20:00 WITA

ab45
Trending di BERITA DAERAH