KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Sebanyak 11 orangutan yatim piatu yang menjalani rehabilitasi di Yayasan Jejak Pulang berhasil dievakuasi setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengancam kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Karhutla terjadi pada Selasa (1/9/2026) dan merambat dari Area Penggunaan Lain (APL) hingga memasuki kawasan KHDTK. Kobaran api yang semakin membesar akibat tiupan angin kencang membuat area rehabilitasi satwa berada dalam kondisi rawan, sehingga proses evakuasi harus segera dilakukan.
Evakuasi melibatkan Yayasan Jejak Pulang bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Manggala Agni, dan Wildlife Rescue Unit (WRU). Sebelas orangutan yang berada di area Sekolah Hutan kemudian dipindahkan menuju fasilitas evakuasi yang lebih aman di Kilometer 38 Samboja.
Dokter Hewan Yayasan Jejak Pulang, drh. Tetri Regilya, mengatakan kondisi seluruh orangutan saat ini dalam keadaan baik. Meski demikian, pemeriksaan dan observasi masih terus dilakukan untuk memastikan tidak ada dampak kesehatan akibat paparan asap maupun proses evakuasi.
“Kondisi 11 orangutan saat ini baik dan normal. Observasi masih terus kami lakukan,” ujar Tetri, Jumat (4/9/2026).
Menurutnya, hingga saat ini belum ditemukan tanda-tanda gangguan kesehatan seperti gejala flu maupun gangguan lain yang berkaitan dengan karhutla. Tim medis tetap melakukan pemantauan secara berkala selama satwa berada di kandang evakuasi.
Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M. Ari Wibawanto, menjelaskan keputusan evakuasi diambil setelah adanya informasi mengenai ancaman karhutla di sekitar pusat rehabilitasi. Keselamatan satwa menjadi pertimbangan utama, mengingat api telah mendekati kawasan tempat orangutan menjalani proses rehabilitasi.
“Evakuasi menjadi pilihan paling tepat untuk keselamatan dan kesejahteraan satwa,” kata Ari.
BKSDA Kaltim juga mengapresiasi koordinasi bersama Yayasan Jejak Pulang dalam proses pemindahan 11 orangutan tersebut. Setelah dievakuasi, kondisi satwa diperiksa dan dipantau secara bersama oleh tim medis, animal keeper, serta BKSDA Kaltim.
KHDTK Samboja sendiri memiliki luas sekitar 3.500 hektare, sementara area Sekolah Hutan yang digunakan untuk rehabilitasi orangutan mencapai sekitar 130 hektare. Kondisi kawasan yang dikelilingi hutan membuat kesiapsiagaan terhadap ancaman karhutla menjadi bagian penting dalam kegiatan rehabilitasi satwa.
Selain memastikan keselamatan fisik, tim juga menghadapi tantangan dalam menjaga kesejahteraan orangutan selama berada di fasilitas evakuasi. Perubahan dari lingkungan hutan yang luas ke ruang kandang membuat satwa memiliki ruang gerak lebih terbatas dan kehilangan sebagian stimulasi alami yang biasa diperoleh di habitat rehabilitasi.
Karena itu, tim tetap memberikan pengayaan atau enrichment untuk menjaga aktivitas fisik dan kognitif orangutan. Fasilitas di dalam kandang juga disesuaikan agar menyerupai kondisi hutan, sehingga proses rehabilitasi tetap dapat berjalan selama situasi karhutla belum sepenuhnya memungkinkan satwa kembali ke area semula.
Keberhasilan evakuasi 11 orangutan tersebut menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan dan koordinasi lintas pihak dalam menghadapi ancaman karhutla. Langkah cepat dilakukan untuk memastikan satwa tetap terlindungi, sekaligus menjaga keberlanjutan proses rehabilitasi di tengah kondisi darurat.
Pewarta : Fairuzzabady Editor : Fairuzzabady @2026

















