KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Di tengah hamparan luas Danau Semayang, sebuah pulau kecil bernama Tanjung Hallat perlahan terus dirawat oleh warga Desa Sangkuliman. Melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bertata Menata Tertata (BMT), masyarakat setempat melakukan gerakan penanaman pohon untuk menjaga kelestarian kawasan tersebut.
Penanaman dilakukan saat kondisi air danau sedang pasang, sehingga masih memungkinkan menanam beberapa jenis bibit pohon seperti berunai, balik kara, dan bungur. Pohon-pohon tersebut diharapkan mampu tumbuh kuat dan menjadi peneduh sekaligus pelindung daratan kecil di tengah danau.
Ketua Pokdarwis BMT Desa Sangkuliman, Rojali, mengatakan kegiatan ini merupakan upaya berkelanjutan masyarakat untuk menjaga keasrian pulau sekaligus mendukung pengembangan wisata alam.
“Gerakan menanam pohon ini terus kami lakukan agar pulau tetap hijau dan teduh. Jika pohon sudah tumbuh sekitar dua meter, biasanya bisa bertahan meskipun air danau naik,” ujarnya, Sabtu (14/3/2026).
Menurutnya, gerakan tersebut juga mendapat dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai Kartanegara yang memberikan bantuan bibit pohon untuk ditanam di kawasan yang lebih tinggi.
Selain menjaga lingkungan, kawasan ini juga mulai dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi berbasis alam dan budaya nelayan. Tanjung Hallat dikenal sebagai satu-satunya pulau kecil di tengah Danau Semayang yang luasnya mencapai sekitar 13 ribu hektare.

Sekelompok remaja menikmati suasana alam yang asri pada sore hari di kawasan Tanjung Hallat, Desa Sangkuliman, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara. Di lokasi tersebut terdapat dermaga kecil berbahan kayu yang menjadi tempat favorit wisatawan untuk bersantai sambil menikmati panorama alam dan hamparan air Danau Semayang. Dok: Rojali – Pokdarwis BMT.
“Harapan kami tempat ini bisa menjadi destinasi wisata yang memberi manfaat bagi masyarakat. Pengunjung bisa belajar langsung bagaimana nelayan menangkap ikan di danau dan menikmati olahan ikan dari warga,” kata Rojali.
Keindahan pulau ini juga menjadi daya tarik tersendiri. Dari panggung wisata yang dibangun di kawasan tanjung, pengunjung dapat menyaksikan panorama desa-desa di sekitar danau seperti Desa Semayang, Melintang, Kota Bangun Ulu, hingga Desa Pela di kejauhan.
Saat senja tiba, pemandangan matahari terbenam di atas danau menjadi momen yang paling ditunggu wisatawan. Banyak pengunjung datang untuk menikmati suasana tenang pulau kecil yang dikelilingi air danau luas.
Akses menuju Tanjung Hallat saat ini masih menggunakan perahu kecil atau ces ketinting milik warga, dengan kapasitas terbatas sekitar dua hingga tiga orang setiap perjalanan. Meski sederhana, transportasi tersebut justru membuka peluang tambahan penghasilan bagi masyarakat setempat.
Pokdarwis juga telah menerima bantuan satu unit long boat dari Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2025 untuk mendukung aktivitas wisata di kawasan tersebut.
Rojali berharap pemerintah daerah hingga pusat dapat terus mendukung pengembangan desa wisata di Sangkuliman, baik melalui peningkatan fasilitas maupun penguatan sumber daya manusia.

Sejumlah wisatawan lokal menikmati suasana alam yang asri di kawasan Tanjung Hallat, Desa Sangkuliman, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara, saat musim kemarau. Para pengunjung tampak menggelar tikar sambil bersantai dan menikmati panorama alam serta hamparan pemandangan Danau Semayang yang menenangkan. Dok: Rojali – Pokdarwis BMT.
“Kami ingin potensi ini bisa berkembang sehingga membawa kesejahteraan bagi warga. Jika dikelola dengan baik, wisata alam di danau ini bisa menjadi kebanggaan daerah,” pungkasnya.
Selain menawarkan panorama alam, Tanjung Hallat juga memperkenalkan kearifan lokal nelayan, mulai dari teknik menangkap ikan hingga berbagai alat tangkap tradisional yang masih digunakan masyarakat di Danau Semayang. Bagi para pengunjung, pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan wisata yang tidak hanya indah, tetapi juga sarat cerita kehidupan masyarakat danau.
Pewarta & Editor: Fairuzzabady @2026

















