KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Menjelang pelaksanaan puncak Erau Adat Kuta Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, berbagai prosesi adat mulai digelar di Kota Raja Tenggarong. Salah satunya adalah Merangin, ritual sakral yang dilaksanakan pada malam hari di luar keraton sebagai penanda bahwa pesta adat dan budaya Erau segera berlangsung.
Merangin menjadi bagian penting dalam rangkaian ritual Erau. Prosesi ini dimaknai sebagai awal perjalanan para Belian, yakni pelaksana upacara adat, dalam menjalankan perintah Sultan. Perjalanan tersebut diwujudkan dengan mendatangi rumah-rumah warga maupun tempat yang telah ditentukan sesuai tradisi.
Kehadiran para Belian tidak sekadar menjadi simbol perjalanan secara fisik. Dalam pemaknaan ritual, Merangin juga menjadi sarana untuk menyampaikan laporan, mengajak serta memberikan penghormatan kepada para tamu dan pihak yang berkaitan dengan pelaksanaan Erau, baik dari kalangan masyarakat maupun dalam dimensi spiritual.
Prosesi Merangin diawali dengan pembacaan mantra oleh pimpinan upacara. Setelah itu, tujuh Belian Laki dan tujuh Belian Bini mengelilingi Binyawan yang berada di tengah bangunan.
Sesekali, beras kuning ditebarkan sebagai bagian dari prosesi adat. Diiringi tabuhan gendang dan gong yang berlangsung secara ritmis, suasana ritual semakin terasa khidmat dan sakral. Para Belian Laki kemudian berputar mengelilingi Binyawan sebelum prosesi ditutup dengan tarian tujuh Belian Bini yang mengitari Binyawan sebanyak tujuh kali.
Koordinator Belian, Sartin, menjelaskan bahwa Merangin merupakan kelanjutan dari rangkaian ritual Erau yang telah dilaksanakan sebelumnya.
“Malam ini kita sudah sampai pada tahapan Merangin. Ini merupakan perjalanan yang diperintahkan oleh Raja atau Sultan untuk menyampaikan berbagai pekerjaan yang nantinya diserahkan kepada Kesultanan,” ujar Sartin, Jumat (18/9/2026) malam.
Menurutnya, rangkaian perjalanan tersebut nantinya bermuara pada prosesi Tepung Tawar atau Puja Bantan Tepung Tawar Kampung Ratu Baris Aji sebagai bagian dari tahapan adat Erau.
Sartin mengatakan, perjalanan Merangin pada dasarnya memiliki pola yang serupa dengan prosesi pada malam sebelumnya. Para Belian mendatangi rumah maupun tempat yang telah dituju untuk bersoan, yakni melapor sekaligus menyampaikan bahwa rangkaian pelaksanaan Erau akan segera digelar.
Namun, dalam pemaknaan adat, perjalanan tersebut tidak hanya berlangsung dalam alam nyata. Para pelaksana ritual juga menjalani perjalanan secara spiritual yang diyakini memiliki dimensi berbeda dari apa yang dapat dilihat secara kasatmata.
“Secara raga kita masih terlihat, tetapi secara jiwa kita sudah menjalani perjalanan tersebut,” jelasnya.
Pelaksanaan Merangin tahun ini telah memasuki malam kedua. Tahapan tersebut menjadi bagian dari perjalanan para Belian dalam menyampaikan berbagai hal kepada pihak-pihak yang berkaitan dengan ritual, baik yang berada dalam kehidupan nyata maupun yang dimaknai hadir dalam dimensi spiritual.
Secara filosofis, Sartin menjelaskan, istilah Merangin berasal dari pemaknaan tentang sebuah perjalanan yang baru dimulai. Perjalanan itu menjadi simbol dimulainya tugas para Belian untuk menjalankan perintah Sultan hingga seluruh rangkaian ritual adat dapat diselesaikan.
“Merangin itu kita filosofikan sebagai perjalanan yang baru mulai dalam rangka melaksanakan tugas. Karena itu, malam ini disebut Merangin Dua,” pungkasnya.
Ritual Merangin sekaligus memperlihatkan bahwa Erau bukan sekadar sebuah pesta adat dan budaya. Di balik kemeriahan yang akan hadir di Kota Raja Tenggarong, terdapat rangkaian ritual yang sarat makna, dijalankan secara bertahap sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Pewarta : Fairuzzabady Editor : Fairuzzabady @2026

















