Menu

Mode Gelap
Nasib 44 Karyawan PT WATS Masih Menggantung, Gaji September Tetap Dibayarkan Komisi IV DPRD Samarinda Soroti Nasib Karyawan PT WATS Usai Kerja Sama Berakhir Disnaker Samarinda Siap Mediasi Persoalan Hak 44 Karyawan PT WATS Nasib 44 Karyawan PT WATS Belum Jelas, Minta Kepastian Status dan Hak Pekerjaan 44 Karyawan PT WATS Masih Digaji, Nasib Pekerjaan di Tengah Sengketa Bendang Belum Jelas

SENI BUDAYA · 18 Sep 2025 21:15 WITA ·

Ritual Merangin Jadi Awal Perjalanan Sakral Belian dalam Rangkaian Erau Adat Kutai


 Para Belian melaksanakan ritual sakral Merangin dengan mengelilingi Binyawan, diiringi tabuhan gendang dan gong yang berirama, sehingga menciptakan suasana semakin magis. (Fairuzzabady/Kumalanews.id) Perbesar

Para Belian melaksanakan ritual sakral Merangin dengan mengelilingi Binyawan, diiringi tabuhan gendang dan gong yang berirama, sehingga menciptakan suasana semakin magis. (Fairuzzabady/Kumalanews.id)

KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Sebelum berlangsungnya puncak upacara Erau Adat Kutai, Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menggelar prosesi sakral yang disebut Merangin. Ritual ini dilaksanakan pada malam hari di luar keraton sebagai media pemberitahuan kepada khalayak ramai bahwa dalam beberapa hari ke depan, pesta adat dan budaya Erau akan segera digelar.

Merangin dimaknai sebagai awal perjalanan para Belian, yakni pelaksana upacara adat, dalam menjalankan perintah Sultan. Prosesi ini diwujudkan dengan berjalan dan mendatangi rumah-rumah warga yang sebelumnya telah diundang dalam acara adat. Tujuannya adalah menyampaikan laporan, mengajak serta, sekaligus memberikan penghormatan kepada tamu, baik dari kalangan masyarakat maupun dimensi spiritual.

Ritual Merangin dibuka dengan pembacaan mantra oleh pimpinan upacara, diikuti tujuh Belian Laki dan tujuh Belian Bini yang mengelilingi Binyawan di tengah bangunan. Sesekali beras kuning ditebarkan sebagai tanda dimulainya prosesi. Tabuhan gendang dan gong yang terus berirama membuat suasana semakin magis, terutama saat para Belian Laki mulai berputar mengelilingi Binyawan. Ritual ini kemudian diakhiri dengan tarian tujuh Belian Bini yang menari mengitari Binyawan sebanyak tujuh kali.

Koordinator Belian, Sartin, menyebut Merangin dilaksanakan selama tiga malam berturut-turut, mulai dari Merangin Satu, Merangin Dua, hingga Merangin Tiga yang dilanjutkan dengan ritual Mengatur Dahar.

“Dengan Merangin ini, kami mengajak semua pihak untuk turut serta dalam rangkaian Erau. Supaya mereka merasa dihargai, dihormati, dan tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya, Kamis (18/9/2025) malam.

Lebih dari sekadar ritual, prosesi ini memiliki pesan penting bagi generasi muda. Melalui Merangin, nilai-nilai budaya leluhur yang diwariskan turun-temurun dapat terus dikenalkan dan dilestarikan.

“Harapan kami, generasi muda bisa lebih mengenal dan menghargai tradisi sakral seperti ini. Walaupun sakral, tradisi ini tidak akan lekang oleh waktu jika terus dijaga dan diperhatikan,” pungkas Sartin.

 

Pewarta & Editor : Fairuzzabady
Artikel ini telah dibaca 136 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Erau 2026 Dikawal Kejaksaan, Pemkab Kukar Perkuat Penataan Aset Daerah

20 Agustus 2026 - 13:00 WITA

g74

Erau 2026 Dikawal Kejaksaan, Kesultanan Kukar Perkuat Sinergi Jaga Adat dan Budaya

20 Agustus 2026 - 12:00 WITA

g73

Jepen Street Dance Hidupkan Warisan Budaya Kaltim di Tengah CFD Samarinda

9 Agustus 2026 - 13:00 WITA

f11

Petala Borneo Guncang IDEF 2026, Ajak Penonton Dunia Datang ke Erau Kukar

25 Juli 2026 - 17:00 WITA

d56

Diguyur Hujan, Festival Budaya Dayak Kenyah Tetap Dipadati Ribuan Pengunjung

29 Juni 2026 - 10:02 WITA

a127

Festival Budaya Dayak Kenyah 2026 Diserbu Pengunjung, Panitia Dorong Peningkatan Fasilitas

29 Juni 2026 - 09:00 WITA

a126
Trending di BERITA DAERAH