Menu ✖

Mode Gelap
Resmikan SAE PASTARUNG, Bupati Kukar Dorong Pemberdayaan dan Kemandirian Warga Binaan Rodi Arianto Harap UMKM Kembali Beraktivitas di Teras Samarinda, RDP Berlanjut Besok Bapemperda DPRD Samarinda Bahas Raperda APBD 2027, Anggaran Awal Rp3,46 Triliun Perumda Varia Niaga Buka Peluang UMKM Kembali Berjualan di Teras Samarinda DPRD Samarinda Bahas Penghentian UMKM di Teras Samarinda, Pihak Terkait Dipanggil

SENI BUDAYA · 18 Sep 2025 21:15 WITA ·

Ritual Merangin Jadi Awal Perjalanan Sakral Belian dalam Rangkaian Erau Adat Kutai


 Para Belian melaksanakan ritual sakral Merangin dengan mengelilingi Binyawan, diiringi tabuhan gendang dan gong yang berirama, sehingga menciptakan suasana semakin magis. (Fairuzzabady/Kumalanews.id) Perbesar

Para Belian melaksanakan ritual sakral Merangin dengan mengelilingi Binyawan, diiringi tabuhan gendang dan gong yang berirama, sehingga menciptakan suasana semakin magis. (Fairuzzabady/Kumalanews.id)

KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Sebelum berlangsungnya puncak upacara Erau Adat Kutai, Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menggelar prosesi sakral yang disebut Merangin. Ritual ini dilaksanakan pada malam hari di luar keraton sebagai media pemberitahuan kepada khalayak ramai bahwa dalam beberapa hari ke depan, pesta adat dan budaya Erau akan segera digelar.

Merangin dimaknai sebagai awal perjalanan para Belian, yakni pelaksana upacara adat, dalam menjalankan perintah Sultan. Prosesi ini diwujudkan dengan berjalan dan mendatangi rumah-rumah warga yang sebelumnya telah diundang dalam acara adat. Tujuannya adalah menyampaikan laporan, mengajak serta, sekaligus memberikan penghormatan kepada tamu, baik dari kalangan masyarakat maupun dimensi spiritual.

Ritual Merangin dibuka dengan pembacaan mantra oleh pimpinan upacara, diikuti tujuh Belian Laki dan tujuh Belian Bini yang mengelilingi Binyawan di tengah bangunan. Sesekali beras kuning ditebarkan sebagai tanda dimulainya prosesi. Tabuhan gendang dan gong yang terus berirama membuat suasana semakin magis, terutama saat para Belian Laki mulai berputar mengelilingi Binyawan. Ritual ini kemudian diakhiri dengan tarian tujuh Belian Bini yang menari mengitari Binyawan sebanyak tujuh kali.

Koordinator Belian, Sartin, menyebut Merangin dilaksanakan selama tiga malam berturut-turut, mulai dari Merangin Satu, Merangin Dua, hingga Merangin Tiga yang dilanjutkan dengan ritual Mengatur Dahar.

“Dengan Merangin ini, kami mengajak semua pihak untuk turut serta dalam rangkaian Erau. Supaya mereka merasa dihargai, dihormati, dan tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya, Kamis (18/9/2025) malam.

Lebih dari sekadar ritual, prosesi ini memiliki pesan penting bagi generasi muda. Melalui Merangin, nilai-nilai budaya leluhur yang diwariskan turun-temurun dapat terus dikenalkan dan dilestarikan.

“Harapan kami, generasi muda bisa lebih mengenal dan menghargai tradisi sakral seperti ini. Walaupun sakral, tradisi ini tidak akan lekang oleh waktu jika terus dijaga dan diperhatikan,” pungkas Sartin.

 

Pewarta & Editor : Fairuzzabady
Artikel ini telah dibaca 157 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

BeSeprah Erau Adat Kutai 2026, Tradisi Jamuan Rakyat yang Pererat Kebersamaan

24 September 2026 - 13:00 WITA

k95

Erau 2026 Resmi Dibuka, Bupati Kukar Ajak Masyarakat Jaga Warisan Budaya dan Kebersamaan

20 September 2026 - 12:00 WITA

k48

Tiang Ayu Ditegakkan, Tandai Dimulainya Erau Adat Kutai 2026

20 September 2026 - 11:00 WITA

k47

Merangin, Ritual Sakral Kesultanan Kutai Menandai Awal Perjalanan Menuju Erau

19 September 2026 - 09:00 WITA

k45

Menjamu Benua Digelar, Kesultanan Kutai Sambut Erau 2026

17 September 2026 - 20:00 WITA

k33

Beluluh Sultan Buka Jalan Menuju Semarak Erau Adat Kutai 2026

17 September 2026 - 14:00 WITA

k26
Trending di BERITA DAERAH