KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Di sudut tenang Desa Sangkuliman, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, terbentang pesona alam yang masih asri dan sarat nilai kearifan lokal. Kawasan ini dikenal sebagai desa ekowisata yang tumbuh dari kehidupan masyarakat nelayan, sekaligus menjadi ruang belajar tentang harmoni antara manusia dan alam.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bertata Menata Tertata (BMT) Desa Sangkuliman, Rojali, menjelaskan salah satu daya tarik utama di wilayah ini adalah Luah Ulaman. Lokasi tersebut menjadi spot penting bagi nelayan, terutama saat air surut di musim kemarau, ketika ikan dari Danau Semayang dan Danau Saguntur mengalir menuju kawasan tersebut.
Berada di wilayah Tanjung Rappeh dan Tanjung Palla, Luah Ulaman menawarkan pengalaman susur danau dan sungai menggunakan perahu long boat, mengelilingi desa yang berbentuk pulau. Sepanjang perjalanan, pengunjung dapat menyaksikan aktivitas warga menangkap ikan dengan alat tradisional bernama “udara”, yakni rakit penyangga perangkap ikan yang menjadi ciri khas masyarakat setempat.
Panorama alam di kawasan ini juga menghadirkan pengalaman unik. Wisatawan kerap menjumpai satwa liar seperti lutung dan kera di pepohonan, hingga pemandangan langka sapi yang berenang di tepian danau untuk mencari pakan. Keindahan tersebut menjadikan Luah Ulaman bukan sekadar objek wisata, melainkan juga ruang edukasi ekologi tentang keseimbangan ekosistem perairan dan kehidupan masyarakat pesisir danau.
“Luah Ulaman ini menjadi spot penting bagi nelayan, terutama saat air surut di musim kemarau,” ungkap Rojali, Jumat (20/2/2026).

Lanskap panorama Luah Kijang memperlihatkan aliran sungai kecil yang membelah hutan rimbun dengan suasana tenang dan sejuk. Di sepanjang alirannya tampak pagar ranting kayu yang tersusun rapi sebagai perangkap ikan tradisional yang dikenal dengan sebutan “reba”. Foto: Rojali – Pokdarwis BMT Desa Sangkuliman.
Tak jauh dari sana, terdapat Luah Kijang, aliran sungai kecil yang membelah hutan rimbun dengan suasana tenang dan sejuk. Di sepanjang alirannya tampak pagar ranting kayu tersusun rapi sebagai perangkap ikan tradisional yang disebut “reba”, menjadi bukti kearifan lokal masyarakat yang masih terjaga hingga kini.
Nama Luah Kijang sendiri memiliki nilai historis. Konon, kawasan ini dahulu menjadi habitat banyak kijang yang hidup bebas di hutan sekitarnya, sehingga meninggalkan jejak cerita yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
“Luah Kijang ini juga menjadi bagian penting bagi warga sekitar untuk mencari ikan dengan alat tangkap tradisional,” beber Rojali.
Dengan akses terbaik saat air pasang maupun musim kemarau, kawasan ini kini berkembang sebagai destinasi unggulan desa. Sangkuliman pun dikenal sebagai kampung nelayan terpadu yang telah tumbuh sejak 1990, sekaligus menjadi desa lestari dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi.
Melalui pengelolaan berbasis masyarakat, ekowisata Sangkuliman tidak hanya menghadirkan keindahan alam, tetapi juga menjadi simbol bagaimana tradisi, budaya, dan lingkungan dapat berjalan selaras dalam satu ruang kehidupan.
Pewarta & Editor: Fairuzzabady @2026

















