Menu

Mode Gelap
DPRD Samarinda Ingatkan Aksi 21 April Tetap Damai dan Jaga Kondusivitas Konser HKBP Semarakkan IKN, Perkuat Kebersamaan DPRD Samarinda Apresiasi Kajari Lama, Dorong Kinerja Lebih Baik Di Era Baru Sekda Samarinda Optimistis Sinergi Dengan Kejaksaan Terus Berlanjut Pisah Sambut Kajari Samarinda, Sinergi dan Penegakan Hukum Ditegaskan

BERITA DAERAH · 23 Feb 2026 20:00 WITA ·

Luah Caki, Danau Kecil Penjaga Rakit dan Jejak Legenda di Sangkuliman


 Aktivitas nelayan tradisional di Desa Sangkuliman dan sekitarnya tampak berlangsung tenang di tepian Luah Caki. Di kawasan inilah mereka menggantungkan hidup, menjemput rezeki dari perairan yang menjadi urat nadi desa. Sejumlah alat tangkap tradisional terlihat berjejer rapi di pinggir aliran luah, menjadi penanda keseharian warga yang setia menjaga warisan cara menangkap ikan secara turun-temurun. Dok: Rojali – Pokdarwis BMT Sangkuliman. Perbesar

Aktivitas nelayan tradisional di Desa Sangkuliman dan sekitarnya tampak berlangsung tenang di tepian Luah Caki. Di kawasan inilah mereka menggantungkan hidup, menjemput rezeki dari perairan yang menjadi urat nadi desa. Sejumlah alat tangkap tradisional terlihat berjejer rapi di pinggir aliran luah, menjadi penanda keseharian warga yang setia menjaga warisan cara menangkap ikan secara turun-temurun. Dok: Rojali – Pokdarwis BMT Sangkuliman.

KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Di tengah bentang alam Desa Sangkuliman, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara, tersembunyi sebuah kawasan perairan yang bukan sekadar tempat bersandar rakit. Warga setempat menyebutnya Luah Caki dengan hamparan air seluas hampir tiga hektare yang bentuknya menyerupai danau kecil, tenang namun sarat fungsi dan cerita.

Luah ini terhubung dengan Danau Semayang, anak Sungai Mahakam, hingga aliran Sungai Mahakam. Saat air pasang besar atau banjir datang, kawasan ini menjadi tempat perlindungan alami bagi puluhan rakit dan keramba agar tidak hanyut terseret gulma yang terbawa arus.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bertata Menata Tertata (BMT) Desa Sangkuliman, Rojali, menjelaskan bahwa kekuatan alam Luah Caki terletak pada pepohonan tua yang masih berdiri kokoh di dalamnya. Batang-batang kayu itu berfungsi sebagai penahan gulma yang hanyut dari danau menuju sungai.

“Lokasi ini sangat strategis, terutama bagi warga Desa Sangkuliman dan Pela, karena hanya berseberangan. Saat air surut atau kemarau, tempat ini masih aktif digunakan nelayan untuk menangkap ikan,” ujar Rojali, Senin (23/2/2026).

bmt2

Panorama keindahan Luah Caki terlihat menyatu dengan denyut kehidupan nelayan di Desa Sangkuliman. Di perairan yang tenang itu, para nelayan setempat menjemput rezeki setiap hari, menggantungkan hidup pada alam yang telah lama menjadi sahabat sekaligus penopang keberlangsungan mereka. Dok: Rojali – Pokdarwis BMT Sangkuliman.

Di musim tenang, wajah Luah Caki berubah menjadi ruang hidup bagi para nelayan tradisional. Mereka menebar alat tangkap khas daerah seperti hancaw, rengge, dan tamba. Dari air yang tenang itu, muncul tangkapan seperti bilis mayang, seluang, puyaw, salap, hingga sepat kecil.

“Selain dijual, ikan-ikan kecil ini juga digunakan untuk pakan keramba atau umpan rawai bentang dan rawai tajak. Biasanya yang dipakai ikan sepat dan puyaw kecil,” jelas Rojali.

Namun Luah Caki bukan hanya tentang ekonomi dan ekologi. Di balik keteduhannya, tersimpan legenda lama yang masih hidup dalam cerita warga. Nama “Caki” diyakini berasal dari sosok sakti yang konon memiliki mandau ajaib. Senjata itu dipercaya dapat terbang dan pernah digunakan untuk melawan penjajah Portugis pada masa lampau.

Kini, kisah dan keindahan alam itu menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Wisatawan yang datang ke Desa Sangkuliman dapat menyusuri danau dan sungai menggunakan long boat maupun ces ketinting, menikmati panorama air yang tenang, pepohonan rindang, serta kehidupan nelayan yang masih tradisional.

Sebagai bagian dari kawasan ekowisata, Sangkuliman dikenal sebagai kampung nelayan terpadu sejak 1990, desa lestari yang ramah lingkungan dengan kekayaan hayati yang masih terjaga. Luah Caki pun menjadi salah satu wajahnya tempat di mana alam, kehidupan, dan legenda menyatu dalam satu bentang yang menenangkan.

 

Pewarta & Editor: Fairuzzabady
@2026
Artikel ini telah dibaca 24 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

DPRD Samarinda Ingatkan Aksi 21 April Tetap Damai dan Jaga Kondusivitas

16 April 2026 - 13:00 WITA

ikn120098

DPRD Samarinda Apresiasi Kajari Lama, Dorong Kinerja Lebih Baik Di Era Baru

16 April 2026 - 11:00 WITA

ikn900008851

Sekda Samarinda Optimistis Sinergi Dengan Kejaksaan Terus Berlanjut

16 April 2026 - 10:00 WITA

smd999876

Pisah Sambut Kajari Samarinda, Sinergi dan Penegakan Hukum Ditegaskan

16 April 2026 - 09:00 WITA

smd8989898

Polemik 49 Ribu Peserta JKN Memanas, Wali Kota Samarinda: Ini Pengalihan Beban, Bukan Redistribusi

15 April 2026 - 18:00 WITA

andi9999991

BPS Samarinda Siap Gelar Sensus Ekonomi 2026, Data Pelaku Usaha Jadi Fokus Utama

15 April 2026 - 17:00 WITA

smd909761
Trending di BERITA DAERAH