Menu

Mode Gelap
DPRD Samarinda Ingatkan Aksi 21 April Tetap Damai dan Jaga Kondusivitas Konser HKBP Semarakkan IKN, Perkuat Kebersamaan DPRD Samarinda Apresiasi Kajari Lama, Dorong Kinerja Lebih Baik Di Era Baru Sekda Samarinda Optimistis Sinergi Dengan Kejaksaan Terus Berlanjut Pisah Sambut Kajari Samarinda, Sinergi dan Penegakan Hukum Ditegaskan

BERITA DAERAH · 25 Feb 2026 21:00 WITA ·

Luah Pakak, Nadi Sunyi Penjaga Pesut dan Asa Warga Sangkuliman


 Panorama keindahan Luah Pakak di Desa Sangkuliman, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara. Luah ini bukan sekadar aliran air, melainkan urat nadi transportasi warga yang menghubungkan Kecamatan Kota Bangun dan Desa Liang Ulu menuju Sangkuliman, Pela, Melintang hingga Muara Enggelam. Dok. Rojali – Pokdarwis BMT Desa Sangkuliman. Perbesar

Panorama keindahan Luah Pakak di Desa Sangkuliman, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara. Luah ini bukan sekadar aliran air, melainkan urat nadi transportasi warga yang menghubungkan Kecamatan Kota Bangun dan Desa Liang Ulu menuju Sangkuliman, Pela, Melintang hingga Muara Enggelam. Dok. Rojali – Pokdarwis BMT Desa Sangkuliman.

KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Di balik rimbunnya tepian Desa Sangkuliman, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), mengalir tenang sebuah sungai kecil bernama Luah Pakak. Sunyi di permukaan, namun sesungguhnya menyimpan denyut kehidupan yang tak pernah benar-benar padam.

Luah Pakak bukan sekadar aliran air. Ia adalah urat nadi transportasi warga yang menghubungkan Kecamatan Kota Bangun dan Desa Liang Ulu menuju Sangkuliman, Pela, Melintang hingga Muara Enggelam. Jalur air ini mempersingkat jarak tempuh, sekaligus menyatukan kehidupan masyarakat yang bertumpu pada danau dan Sungai Mahakam.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bertata Menata Tertata (BMT) Desa Sangkuliman, Rojali, menyebut posisi Luah Pakak sangat strategis. Alirannya terhubung langsung dengan Danau Saguntur dan Danau Semayang, yang terkoneksi ke Sungai Mahakam.

“Lewat luah ini, mamalia air seperti Pesut Mahakam bisa langsung menuju danau karena jaraknya lebih dekat ke Sungai Mahakam,” ujarnya, Rabu (25/2/2026).

Tak hanya pesut, kawasan ini juga menjadi habitat bekantan si hidung panjang. Pepohonan yang masih kokoh di tepian luah menjadi tempat berteduh sekaligus sumber pakan, sementara perairannya yang relatif bersih dipenuhi ikan-ikan kecil—sumber kehidupan bagi satwa dan warga.

“Kalau pesut tidak muncul di sekitar Jembatan Kuning atau muara anak Sungai Mahakam, biasanya mereka ada di depan Luah Pakak, menunggu ikan kecil keluar dari aliran danau. Bekantan juga sering terlihat di tepian luah mencari makan,” tutur Rojali.

Letaknya yang berada di sisi utara desa dan melintas di belakang permukiman warga membuat Luah Pakak lebih sering dilalui nelayan dari Liang Ulu dan Kota Bangun menuju danau. Namun, di balik keindahan dan fungsinya yang vital, ancaman tetap mengintai.

Rojali mengungkapkan masih ada oknum nelayan yang menggunakan alat tangkap terlarang seperti setrum dan racun ikan. Karena itu, Pokdarwis BMT terus menyuarakan pentingnya menjaga kelestarian ekosistem air dan darat.

“Kami ingin ada dua titik menara pengintai yang dibangun Dinas Kelautan dan Perikanan Kukar, agar aktivitas di danau bisa terpantau, terutama saat musim air pasang besar,” tegasnya.

luahpakak2

Luah Pakak bukan sekadar aliran air, melainkan urat nadi transportasi warga yang menghubungkan Kecamatan Kota Bangun dan Desa Liang Ulu menuju Sangkuliman, Pela, Melintang hingga Muara Enggelam. Jalur air ini mempersingkat jarak tempuh sekaligus menyatukan denyut kehidupan masyarakat yang bertumpu pada danau dan Sungai Mahakam. Dok. Rojali – Pokdarwis BMT Desa Sangkuliman.

Menurutnya, satu menara idealnya dibangun di Gunung Tallo untuk memantau Danau Saguntur dan sejumlah luah seperti Pakak, Palla, Caki, Kijang, dan Ulaman. Sementara satu titik lainnya di Tanjung Hallat guna mengawasi Teluk Mentaba, Kayu Pagat, Kalan Malang hingga Teluk Garam wilayah yang menjadi sumber penghidupan vital bagi nelayan.

Tak hanya pengawasan, upaya penghijauan juga menjadi harapan. Rojali mendorong adanya bantuan bibit pohon buah lokal, kelapa, serta tanaman tahan air untuk ditanam di titik-titik rawan abrasi seperti Tanjung Hallat, Tanjung Rappeh, Tanjung Palla, Gunung Tallo, dan Danau Saguntur.

“Dengan menanam pohon, kita menjaga tanah dari gerusan gelombang dan lalu lintas perahu besar. Lindungi alam etam. Kalau bukan etam, siapa lagi? Ini jalan menuju ekonomi hijau,” ucapnya penuh harap.

Di Luah Pakak, alam dan manusia berdiri dalam satu garis takdir. Jika dijaga, ia akan terus mengalirkan kehidupan bagi pesut, bekantan, dan generasi yang menggantungkan masa depan pada air yang tetap jernih.

 

Pewarta & Editor : Fairuzzabady
@2026
Artikel ini telah dibaca 28 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

DPRD Samarinda Ingatkan Aksi 21 April Tetap Damai dan Jaga Kondusivitas

16 April 2026 - 13:00 WITA

ikn120098

DPRD Samarinda Apresiasi Kajari Lama, Dorong Kinerja Lebih Baik Di Era Baru

16 April 2026 - 11:00 WITA

ikn900008851

Sekda Samarinda Optimistis Sinergi Dengan Kejaksaan Terus Berlanjut

16 April 2026 - 10:00 WITA

smd999876

Pisah Sambut Kajari Samarinda, Sinergi dan Penegakan Hukum Ditegaskan

16 April 2026 - 09:00 WITA

smd8989898

Polemik 49 Ribu Peserta JKN Memanas, Wali Kota Samarinda: Ini Pengalihan Beban, Bukan Redistribusi

15 April 2026 - 18:00 WITA

andi9999991

BPS Samarinda Siap Gelar Sensus Ekonomi 2026, Data Pelaku Usaha Jadi Fokus Utama

15 April 2026 - 17:00 WITA

smd909761
Trending di BERITA DAERAH